Fanpage

About Me

KERTAS-KERTAS BERDAWAT EMAS

Mengenal Lebih dari 250 Kitab Langka Ahlussunnah wal Jamaah


Sinopsis:

Di tengah-tengah berkembang bebasnya sekte-sekte ideologi sesat dan aliran-aliran pemikiran cacat, umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai golongan mayoritas di dunia dan kelompok paling selamat di akhirat nyaris digoda dan kemudian dicederai. Langkah yang tepat guna menyapu sampah-sampah ideologi cacat yang bertaburan tersebut antara lain dengan mengokohkan ke-Aswaja-an umat Islam, daripada sibuk mengumbar serangan-serangan non-efektif yang acap kali bablas dan melampaui norma serta etika.

Salah satu upaya menguatkan ke-Aswaja-an dimaksud ialah dengan menghidupkan kembali sekaligus mengkaji literatur ke-Aswaja-an klasik maupun kontemporer yang belum banyak dimiliki dan digali. Buku ini turut membangkitkan motivasi umat untuk menyemarakkan kajian, memperkokoh pondasi, mempertahankan, membentengi sekaligus membina dan meningkatkan ke-Aswaja-an, dengan memperkenalkan karya-karya berharga yang di negara-negara Arab pun terbilang langka, namun cukup penting untuk dimiliki dan ditelaah hingga keimanan bertambah tebal, kebal dan perkasa.

Ironi, sejak pulang dari negeri para nabi, penulis tidak jarang atau sempat diklaim sebagai pembawa ajaran baru yang tidak sehaluan dengan ajaran Aswaja. Padahal, apa yang penulis bawa sebetulnya telah mengakar kuat di bumi Timur Tengah sejak dahulu kala, hanya saja belum sampai ke mereka yang salah mengerti di tanah Nusantara umumnya dan di kampung halaman penulis khususnya. 

Bukankah semestinya disambut hangat lalu dimasyarakatkan? Ataukah sebaiknya digugat, dihujat, dituding sesat lalu dikebiri dengan dalih tidak pernah diajarkan oleh guru A maupun guru B? Kedangkalan berpikir dan bersikap demikianlah yang juga diakibatkan oleh keterbatasan wawasan ke-Aswaja-an. Sehingga, tak ayal bila putra putri bangsa banyak berharap dan selalu dianjurkan ke luar negeri untuk menggali ilmu sedalam-dalamnya. Salah satu pemicunya antara lain keterbatasan wawasan maupun pustaka yang tersedia di Tanah Air tercinta.

Seharusnya pula umat Islam Aswaja bersatu dan tidak bercerai berai, agar tidak semakin memperburuk citra kebenaran di hadapan mereka yang beriman surut, berakidah kusut, berpaham kalut dan berpikir carut marut, baik dari sekte bathil Wahabi, Syiah, liberal-sekuler dan sebagainya.

Karena itu, dalam rangka pengayaan kepustakaan sekaligus peningkatan keilmuan pembaca, penulis berharap buku petunjuk sederhana ini dapat diambil manfaatnya. Dengan catatan, masih banyak lagi karya berharga lainnya yang tidak terlampir dalam buku ini. Penulis cenderung menampilkan sebagian kitab-kitab langka recommended yang telah penulis miliki dan tentunya karangan ulama-ulama terkemuka nan terpercaya Ahlussunnah wal Jamaah, dengan tipikal berakidah Asy'ariyah wa Maturidiyah, bermadzhab salah satu dari empat madzhab mu'tabar serta berpegang teguh pada prinsip-prinsi tasawuf yang rahmatan lil 'alamin.
     


Penulis: H. Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc., M.A.
Penerbit: Samudra Biru Yogyakarta
Harga: Rp 40.000.-

BIOGRAFI 4 WALI KUTUB

Sinopsis:

Para nabi dan rasul adalah pilihan-pilihan Allah Swt. sebagai penunjuk umat manusia ke jalan maha benar-Nya. Tentu selamat siapa saja yang setia mengikuti petunjuk mereka. Dan betapa beruntungnya umat Rasulullah Saw. sebagai sebaik-baik umat yang telah diutus kepada mereka sebaik-baik nabi dan rasul.

Namun kini beliau telah tiada, meninggalkan pesan-pesan mulia dan juga pewaris-pewaris mulia. Bila disadari, maka pewaris-pewaris itulah yang menuntun umat masa kini untuk menjalankan pesan-pesan mulia tersebut dengan baik dan benar. Demikianlah peran penting para pewaris Rasulullah Saw. di mana tanpa mereka, umat tersesat dalam memahami pesan-pesan Baginda, apalagi menjalankannya.

Dari masa ke masa, para pewaris agung pun bersua dengan risalah-risalah cinta dan hidayah-hidayah Ilahiyah. Aneka corak perkembangan zaman juga sanggup dilalui dengan berpegang kepada pesan-pesan yang tertuang dahulu kala. Hal itu dikarenakan petunjuk para pewaris yang betul-betul mengerti kontekstualisasi sebuah teks suci. Mereka benar-benar menguasai tentang bumisasi sebuah pesan langit yang maha sakti. Tak ayal bila mereka dijuluki sebagai wali-wali Allah yang siap menjamin keselamatan hamba di dunia maupun kelak di hadapan-Nya. Tentu bukan sembarang ulama yang memiliki kelayakan menjadi pewaris dan wali. Tentu pula bukan sembarang insan yang dikukuhkan-Nya sebagai pimpinan tertinggi para wali.

Puluhan bahkan ratusan kali dalam sehari umat Islam memohon petunjuk ke jalan yang lurus melalui surat al-Fatihah (Ihdinashshiraatal mustaqiim). Satu hal yang wajib diinsafi ialah bahwasanya jalan yang lurus itu tiada lain adalah jalan orang-orang yang dilimpahi nikmat oleh Allah, sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat berikutnya. Tentu saja para wali Allah adalah orang-orang yang terdepan yang dianugerahi nikmat teragungnya. Mengikuti petunjuk merekalah jalan lurus nan pintas menuju ridha-Nya.

Mengenal mereka bukanlah misi yang sepele. Terlalu banyak tokoh dunia yang telah menyuguhkan segudang inspirasi dan motivasi, hanya dengan mengenal biografi dan perjuangan hidup mereka hingga mati. Lantas sedahsyat apaakah imajinasi yang tersalurkan bila mengenal empat wali kutub pilihan Allah sebagai penyelamat utama di muka bumi?. Setelah para nabi, para sahabat dan empat imam mazhab, maka hadirlah empat wali kutub sebagai penuntun tertinggi menuju hakikat Ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi.

Dalam hadits riwayat ad-Dailami ditegaskan bahwa menyebut kisah para wali dapat menghapus dosa. Para sahabat, tabi'in, dan ulama dari masa ke masa pun menekankan bahwa menyebut kisah para wali dapat menurunkan hujan rahmat.

Semoga buku ini turut menjadi sarana penghapus dosa sekaligus pencucur rahmat Ilahi tiada tara. Amin!



Penulis: H. Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. MA.
Penerbit: Aswaja Pressindo Yogyakarta
Harga: Rp 45.000.-

   

SABDA SUFISTIK

Sinopsis:

Nuansa sufistik yang telah lama tumbuh dan berkembang di Nusantara, kini mengalami sebuah pergeseran paradigma baru; dari tasawuf klasik menuju tasawuf yang baru dan menyegarkan. Walaupun dalam perjalanannya, acapkali dinodai dengan tuduhan sesat bagi tasawuf, namun kualitas dan kuantitasnya kian menuju puncak yang tertinggi. Di tengah derasnya arus post-modernisme, hedonisme, materialisme da kapitalisme, hanya tasawuflah yang berani tampil apa adanya, sejuk dan penuh dengan nilai-nilai progresifitas. Eksistensi tasawuf berbanding lurus dengan keberadaan agama Islam yang kian diombang-ambingkan oleh politisasi agama.

Dalam buku ini, penulis mengupas tuntas tentang ritual-ritual tasawuf yang tidak hanya kredo, melainkan praktik spiritual yang sarat nilai-nilai sosial dan intelektual. Mungkin, banyak ritual-ritual yang dianggap bid'ah oleh sebagian kalangan, namun buku ini mampu mengelaborasi dengan pendekatan komplementer; saling melengkapi antara teks suci dengan rasio, ibadah sosial dengan intelektual. Sehingga pembaca akan dibawa ke dalam alam tasawuf yang realistis. Mengkaji jantung tasawuf sebagai nyawa keberagamaan yang selalu aktual. Sebab tasawuf adalah pencapaian spiritual secara kualitatif, bukan hanya sekedar sesuai dengan zaman, tapi melampaui dimensi ruang dan waktu. Maka, tak akan pernah terjangkau oleh sikap keberagamaan yang dangkal. Seperti kaum puritan (Wahabisme) yang menganggap bahwa tasawuf merupakan sinkretisme antar agama-agama (dakhil 'ala al-Islam).

Saudara saya, Tuan Guru KH. Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc. melalui buku ini adalah sosok yang mencoba menerobos antara serangan kaum puritan dan pemaknaan tasawuf yang bebas ruang dan waktu. Tak hanya melalui kajian dan riset ilmiah, tapi beliau juga sebagai salik (murid) atau mutasawwif juga mengalaminya sebagai pengalaman spiritual. Tentunya, jarang sekali sang mutasawwif berhasil mencapai titik kulminasi tanpa bantuan seorang mahaguru spiritual (wali mursyid).

Di bawah bimbingan sang mahaguru, penulis tak diragukan lagi keberanian dan kejeliannya dalam merangkai antara argumen religius (dalil) dengan pengalaman spiritual.

Sungguh menakjubkan! Sebuah buku yang hampir belum pernah ditemui di Indonesia. Layak bila buku ini kemudian menjadi acuan ritual-ritual tasawuf yang sebenarnya bermakna tinggi dalam kehidupan dan kematian. Sebab setiap gerak-gerik para sufi adalah anugerah Ilahi yang tidak akan setiap orang mampu merasakan kelezatannya. Akhirnya, saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini.

KH. Husni Hidayat
Direktur Institut al-Kibrit al-Ahmar 
Koordinator Cafe Sufi JATMNU Mesir 2006/2007
Penulis buku Tasawyf Revolusioner   

Penulis: Abdul Aziz Sukarnawadi, Lc.
Penerbit: Mahameru Press Yogyakarta
Harga: Rp 40.000.-


 

TATA BAHASA SUFI

Sinopsis:

Dalam rangka menekuni dan mendalami tata bahasa Arab (ilmu nahwu), hampir semua perguruan Islam dan pondok pesantren di tanah air maupun di berbagai penjuru dunia telah menjadikan kitab Matan Jurumiyah karya Imam Sinhaji sebagai buku panduan paling dasar.

Puluhan kitab yang telah men-syarah (menjelaskan) Matan Jurumiyah pun dipelajari dan dikhatamkan berkali-kali. Namun yang jarang disadari komunitas santri maupun kiai adalah Matan Jurumiyah tidak hanya mengajarkan kaidah-kaidah dasar bahasa Arab saja, namun juga menyirat nilai-nilai spirit yang patut diluncurkan dan dihayati dalam-dalam, demi mencetak generasi yang tidak hanya ahli bahasa Arab, tapi juga ahli tasawuf dan akhlak sebagai bahasa hati dan ruh.

Dan yang aneh tapi nyata adalah kata ajurrum sendiri dalam bahasa Berber berarti al-faqir as-sufi (sufi jelata), dengan demikian maka kitab Matn al-Jurumiyyah dapat juga diberi nama lain, yakni Matn as-Sufiyyah.

Konon dikisahkan bahwa Imam as-Sinhaji ra seusai menulis Matan Jurumiyah-nya, beliau membuangnya ke laut sambil berdoa: "Ya Allah, bila kitab ini aku tulis dengan ikhlas karena-Mu, maka jangan basahkan ia", dan ternyata kitab itu tetap kering meskipun lama berenang di lautan.

Diriwayatkan pula oleh Syaikh al-Kafrawi bahwasanya Imam as-Sinhaji ra senantiasa menghadap kiblat selama menulis Matan Jurumiyah-nya.

Walhasil, melalui buku ini akan terkupaslah nilai-nila tasawuf yang dikandung Matan Jurumiyah tersebut, yang telah diungkap oleh Imam Ibnu Ajibah al-Hasani dengan syarah-nya yang diberi nama al-Futuhat al-Quddusiyyah, dan selanjutnya disaring oleh Syaikh Abdul Qadir bin Ahmad al-Kuhani ra dalam ringkasannya yang berjudul Munyatul Faqir al-Mutajarrid wa Siratul Murid al-Mutafarrid.

Dua kitab di atas mungkin sudah diterjemahkan sebelumnya ke dalam bahasa Indonesia, dan mungkin juga belum pernah dikenal ataupun didengar namanya. Apapun kenyataannya, terjemahan yang diberi nama Tata Bahasa Sufi ini lebih cenderung kepada alih bahasa kontekstual yang berpihak kepada metode suluk kontemporer.

Di samping melakukan filterisasi seperlunya, penerjemah sebagai salah seorang pengamal tarekat, sedikit menambahkan beberapa racikan sufistik modern sehingga buku ini menjadi lebih segar untuk dihidangkan di masa kini. Tentu lebih sedap lagi buku ini dicerna oleh mereka yang mengerti dasar-dasar ilmu nahwu maupun prinsip-prinsip tarekat sufi di bawah tuntunan dan bimbingan seorang wali.

Selamat menjiwai. 

Penulis: H. Abdul Aziz Sukarnawadi, MA
Penerbit: BPPNW Mataram
Harga: Rp 30.000.-

 

Produk Terlaris